Tampilkan postingan dengan label moment. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label moment. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 September 2014

Talk Show Ecovillage BPLHD Jabar bersama PJTV dan apa akibatnya bagi warga Sukapura

Sore 21 Juli 2014  itu warga Sukapura tercengang, ada apa gerangan yang terjadi saat melintas mobil besar bergambar kan OA yang menggantung di belakang mobil seperti bus berwarna hijau bertuliskan BPLHD Jabar. Anggota SULIBRA pun sibuk mempersiapkan persiapan untuk esok hari dengan membuat jembatan di selokan agar mobil bisa masuk kedalam lapangan Pabrik Argasari, membuat panggung sederhana menggunakan background papan madrasah Nashrul Huda, hingga mendirikan tenda untuk bermalam menjaga mobil dan mempersiapkan hal lain sebagainya.Para anggota Sulibra bersama pemuda Argasari RW 14 pun melakukan briefing untuk kegiatan esok, meskipun kami belum tau apa yang akan di lakukan besok. pukul 22.00 kami pun beres dan bergegas tidur sebagian ada yang bermain PS di rumah Isep dan sebagian masuk tenda bercerita dan terdengar curcol para anggota tentang kisah kasihnya yan sebetulnya tidak perlu di bahas.

Suara ayam pun terdengar sesekali, seruan tahrim dari sebelah timur terdengar mendengung dengan sedikit jelas bahwa suara itu kakek tua berumur Up to 60 old memanjatkan do'a " Robbana Ya robbana dzolamna anfusana" begitu nyaring terdengar sehingga kamipun terbangun bergegas pulang ke rumah terlebih dahulu untuk Sholat Subuh dan mungkin sebagian tidur lagi. Sesuai hasil briefing seluruh anggota harus sudah ada di lapangan pabrik maksimal pukul 07.45 WIB. Satu persatu para anggota datang hingga pukul 07.45 meskipun belum seluruh anggota datang, alas terpalpun dipasang untuk tempat duduk dengan sistem lesehan dan cingogo. Group band undangan De Vadist telah hadir lengkap dengan personelnya untuk mengisi acara dengan melantunkan lagu Rumah kita, tak kalah rombongan marawispun telah hadir dengan berbagai perlengkapannya kompang dan lain sebagainya lengkap dengan seragam marawisnya dan dan dandana wadrobe yang tebal.

Musik pembuka dari De Vadist pun telah di lantunkan dari atas stage mobil BPLHD yang canggih, Presenter hadir dengan mobil jazznya membuat sedikit tercengang para warga yang kedatangan artis mereun. (maklum Sukapura belum pernah masuk TV) para peserta FGD dari kecamatan Kertasari dari desa lainpun mulai berdatangan dengan seragam hijaunya dari CIhawuk, Desa Santosa, Taruma Jaya, Cibereum dan Cikembang. bang Ari sebagai Produser acara pun sibuk mempersiapkan kamera dan susunan acara, kamipun di beri intruksi untuk secara kompak menyerukan jargon " Kita jaga Alam, Alam jaga Kita" dengan meriah dan tepuk tangan. Hingga terdengar suara Action masing-masing narasumber dipersilahkan maju ke stage yang telah di persiapkan kala itu sebagai narasumber diantaranya Iwank sebagai perwakilan fasilitator, Kades Ciberem saudara bapak Atep, Kabid Perhutani yang lupa lagi namanya, Kades Santosa dan beberapa orang lainnya. berdatangan pula perwakilan dari SKPD kab. Bandung dan Jabar.

Kita jaga Alam, Alam Jaga Kita jargon pertama di sorakan sebagai tanda acara telah action, presenterpun membuka dengan lancar tanpa terbata, diskusipun di lakukan dengan lumayan alot terkait kondisi lingkungan di kecamatan Kertasari terutama yang mempengaruhi kondisi sungai Citarum. Kecamatan Kertasari sebagai wilayah hulu sungai Citarum, namun memberika efek yang kurang baik terhadap sungai Citarum terutama oleh pengikisan lumpur dari lahan kritis yang dijadikan lahan Pertanian. banyak hal yang dibahas dalam diskusi dan Talkshow  Ecovillage BPLHD Jabar ini. pertanyaanpun di layangkan kepada para narasumber terkait diskusi terutam dari Bpk. RW 14 sekaligus guru SMPN 2 Kertasari yang mengritik keras masyarakat yang membuka lahan perkebunan PTPN VIII khususnya di desa Sukapura. Hingga akhirnya langkah yang dilakukan selanjutnya setelah diskusi ini selesai ada beberapa ungkapan salah satunya dari Perhutani yang menyatakan siap memfasilitasi bibit pohon untuk penanaman di Kecamatan Kertasari. Begitupun bung Iwank yang tak kalah memberikan argument yang mempesona dengan gaya propokasinya mempengaruhi warga untuk menjaga lingkungannya sendiri di mulai dari ruang lingkup terkecil yakni rumah sebagai tempat berteduh dan berlindung.

Tak terasa perdebatan dalam diskusi menghabiskan waktu yang hanya disediakan selama satu jam ini, membuat para audien dan narasumbernya terlihat tidak puas, namun apa mau dikata waktu yang mempertemukan kita, waktu jua yang memisahkan kita begitu kata presenter cantik berambut panjang bertumbuh tinggi dan berisi itu sebagai penutup acara.

Peserta pun sedikit berhamburan berburu snack yang disediakan  BPLHD seperti yang takut tidak kebagian, baru saja dibahas mengenai lingkungan  terlihat jelas masyarakat yang belum siap menjaga lingkungan dengan berserakannya sampah. memang perlu proses untuk merubah pola hidup dan kebiasaan dalam berprilaku terhadap lingkungan. Memang tidak cukup dengan sekedar dengan di bahas dengan diskusi masalah lingkungan, perlu dilakukan langkah nyata bersama secara terpadu dan terintegrasi dari seluruh pihak.

Waktu tak lama berselang setelah acara diskusi dan talkshow ecovillage BPLHD

Senin, 21 April 2014

MAKNA HARI KARTINI UNTUK SUKAPURA

Kartini's Day atau hari Kartini merupakan momeny bersejarah bagi bangsa Indonesia karena dalam hidupnya yang singkat selama 25 tahun, telah memberikan sesuatu yang berharga bagi Indonesia. Namun bagaimana makna hari Kartini ini bagi masyarakat Indonesia. Sebelum lebih jauh yuk kita lihat sejarah hidup atau biografi Kartini yang di dapat dari http://forum.kompas.com/sekolah-pendidikan/257516-hari-kartini-sejarahnya-21-april.html.
Raden Adjeng Kartini adalah salah satu tokoh pahlawan wanita Indonesia yang lahir di Jepara pada tanggal 21 April 1879. Kartini atau yang juga sering dikenal dengan R.A. Kartini merupakan seorang pelopor kebangkitan kaum wanita di Indonesia, khususnya kaum pribumi.

Biografi Kartini


Kartini lahir dari keluarga kaya raya, merupakan putri dari bangsawan Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat yang juga menjabat sebagai seorang bupati di Jepara pada masa itu. Ibu Kartini bernama M.A. Ngasirah yang bukan merupakan istri utama dari R.M Adipati Ario Sosroningrat. Ayah Kartini pada awalnya bekerja sebagai seorang wedana di Mayong yang (pada masa itu) masih harus menuruti undang – undang kolonial Belanda berupa adanya peraturan pernikahan antara bupati dengan bangsawan.

R.A. Kartini adalah anak kelima dari sebelas bersaudara kandung dan tiri, juga merupakan anak perempuan tertua. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV menjabat sebagai bupati pada usia yang muda, yaitu 25 tahun. Kakak Kartini, Sosrokartono merupakan seorang yang pandai dalam sastra bahasa. Kartini kecil menuntut ilmu di ELS (Europese Lagere School), sebuah sekolah yang didirikan oleh kolonial Belanda pada masa itu. Ditempat inilah R.A Kartini mempelajari bahasa Belanda. Namun Kartini hanya bersekolah hingga usia 12 tahun, karena pada masa itu, seorang perempuan harus tinggal dirumah setelah menginjak usia yang memungkinkan untuk dipingit.

Karena kemampuan Kartini dalam berbahasa Belanda, Kartini melanjutkan pelajarannya dirumah dengan banyak membaca surat kabar De Locomotief yang beredar harian di Semarang pada masa itu. Selain surat kabar, Kartini juga gemar membaca majalah kebudayaan, ilmu pengetahuan, majalah wanita yang diterbitkan dalam edisi Belanda. Dari kegemarannya membaca, Kartini mulai mencoba untuk menulis. Ide tulisannya seringkali dikirimkan ke media surat kabar untuk dimuat, salah satunya ke harian De Hollandsche Lelie. Kartini pun mulai memiliki sahabat pena. Ia seringkali menulis surat kepada sahabat surat-menyuratnya yang ada di Belanda, seperti Rosa Abendanon yang banyak memberi dukungan dan masukan kepadanya.

Beberapa buku yang memiliki isi yang cukup ‘berat’ yang dibaca oleh Kartini antara lain Max Havelaar, Surat-Surat Cinta karya Multatuli, De Stille Kraacht, Die Waffen, dll. Kartini juga gemar membaca buku – buku sosial, politik, roman, wanita, dan pengetahuan dari penulis – penulis terkenal pada masa itu seperti, Louis Coperus, Van Eeden, Augusta de Witt, Goekoop de-Jong, Van Beek, Berta Von Suttner, dll.

Dari kebiasaan membaca dan tukar pikiran dengan wanita – wanita barat, Kartini mulai tertarik dengan pola pikir wanita eropa pada saat itu. Membandingkan dengan wanita pribumi pada saat itu, strata wanita pribumi masih tergolong sangat rendah dan jauh dibandingkan dengan wanita eropa.

Hal inilah yang mendorong R.A Kartini untuk memajukan status wanita pribumi. Keinginannya tidak semata hanya memajukan strata atau derajat wanita pada masa itu, namun juga yang berhubungan dengan masalah sosial. Perhatiannya adalah memperjuangkan hak wanita agar memiliki kebebasan, otonom juga perlakuan hukum yang sama dalam masyarakat.

R.A Kartini menikah dengan K.R.M Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, seorang bupati Rembang yang pernah menikah 3x, pada tanggal 12 November 1903 pada usia ke-24. Oleh karena cita – citanya, suaminya memberi kebebasan kepada Kartini untuk melaksanakan fokus dan tujuannya semula.

Setelah itu, Kartini mulai merealisasikan mimpinya untuk memajukan wanita dengan mendirikan sekolah wanita yang terletak di sebelah timur pintu gerbang kantor bupati Rembang (kini menjadi Gedung Pramuka).

R.A. Kartini melahirkan anak pertama dan terakhirnya, RM Soesalit Djojoadhiningrat pada tanggal 13 September 1904. Kartini meninggal beberapa hari kemudian pada tanggal 17 September 1904 pada usia yang sangat muda, yaitu 25 tahun dan dikebumikan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.

Perjuangan Kartini tidak berhenti sampai disana, karena Yayasan Sekolah Kartini mulai didirikan dibanyak tempat, seperti di Semarang pada tahun 1912, diikuti di Surabaya, Cirebon, Yogyakarta, Madiun, Malang dan wilayah lainnya yang tersebar di Nusantara. Adapun tokoh yang turut membantu pembangunan sekolah Kartini tersebut adalah seorang tokoh olitik etis Belanda yang bernama Van Deventer.

Hari Kartini & Sejarahnya (21 April)

Hari Kartini pertama kali diresmikan sebagai salah satu hari nasional oleh Presiden pertama RI, Soekarno Hatta berdasarkan Kepres RI no.108, tanggal 2 Mei 1964 serta menetapkan R.A Kartini sebagai salah satu pahlawan wanita di Indonesia. Hari Kartini ditetapkan pada tanggal 21 April sesuai dengan hari kelahiran Kartini.

Kebesaran nama Kartini dan cita-citanya diabadikan menjadi nama jalan yang bukan saja terdapat di Indonesia, tetapi juga di negara Belanda dengan nama R.A Kartinistraat, seperti di Ultretch, Venlo, Amsterdam Zuidoost, Bilmer (ditulis dengan lengkap jl. Raden Ajeng Kartini), Haarlem. Nama Kartini juga dijadikan sebagai nama jalan di Jakarta Pusat.


Bila kita melihat biografi Kartini, memang ternyata jasa beliau selama hidup bukanlah hal yang biasa di dalam hidupnya yang singkat selama 25 tahun. Disini penulis ingin menyampaikan beberapa pandangan mengenai Kartini yang mudah-mudahan bisa bermanfaat.

1. Tinjauan Pendidikan, Kartini membuka mindset yang bagus dengan mendirikan sekolah membuka wawasan bagi wanita, berdasarkan pengalaman beliau yang hanya mendapatkan pendidikan selama 12 tahun. Artinya beliau mengedepankan pendidikan bagi wanita yang jangan sampai dibatasi oleh usia, karena ilmu haruslah terus dicari dan di gali sampai ajal menjemput.

2. Membaca dan menulis adalah hal yang dilakukan Kartini yang menunjukan semangat belajar tak pernah henti, sehingga muncul lah buku habis gelap terbitlah terang yang mana merupakan kumpulan surat beliau untuk berita harian Belanda. proses membaca dan menulis adalah dua sisi yang beriringan. Sehingga budaya menulis dan membaca harus lah tetap di lestarikan sebagai ciri masyarakat maju dan berpendidikan. Bukan bekerja yang diutamakan bagi seorang wanita.

3. Kegigihan beliau untuk mengembangkan wanita dalam pendidikan bukan untuk mensejajarkan hak dan kewajiban antara pria dan wanita. Inilah yang sering di salah artikan oleh banyak wanita yang menganggap bahwa wanita memiliki kewajiban dan hak yang sama dengan pria. Salah satunya dari segi pekerjaan, berapa banyak wanita yang sekarang menjadi wanita carier, hampir semua wanita sekarang mengejar karir sehingga lapangan pekerjaan sekarang ini pasti akan kekurangan dan pengangguran pria semakin besar. Kalaupun bekerja, wanita harus bisa menyesuaikan dengan prioritas hidupnya yakni mengurus rumah tangga, karena sebagian besar masalah rumah tangga ditemukan dari sosok istri yang bekerja.

Lalu apa artinya bagi warga Sukapura, sekarang ini wanita di desa Sukapura mengalami beberapa peningkatan dari segi kewanitaan, terbukti 3 calon legislatif tercatat sebagai calon legislatif yang berasal dari desa Sukapura. Namun dari segi pemudanya belum terlihat sosok yang bisa menjadi figur kebanggaan desa. Hanya ada beberapa sosok pria dari Sukapura yang bisa di bilang membawa harum nama Sukapura. Ada yang menjadi Dosen, artis, Polisi, pengusaha namun kebanyakan nya adalah sebagai pekerja pabrik. Artinya masih banyak peluang yang belum terisi oleh warga Sukapura. AYO BANGKIT WARGA SUKAPURA!!!

 

Subscribe to our Newsletter

Contact our Support

Email us: youremail@gmail.com

Our Team Memebers